Total tayangan kami..

Sabtu, 06 Agustus 2011

SEJARAH SINGKAT PAROKI ST. ALBERTUS AGUNG JETIS




Sekitar tahun 1952 Rm. E. Hardjawardaya, Pr dan Rm. Sumaatmadja, Pr yang bertugas sebagai pastor pembantu di Paroki St. Antonius Kotabaru menawarkan gagasan agar kring-kring di sebelah barat Kali Code yakni Kring Bangirejo, Jetis, dan Gondolayu dipersatukan dalam satu koordinasi wilayah kerja demi efektifitas reksa pastoral. Gagasan tersebut di sambut dengan baik. Pada tahun 1954 ketiga kring itu menyatu dan menjadi Stasi Jetis.
Pada awalnya Stasi Jetis belum memiliki gedung gereja sendiri, sehingga Perayaan Ekaristi pada hari Minggu ataupun hari Raya diselenggarakan di rumah umta, di tempat umum, ataupun di kantor instansi pemerintahan yang memungkinkan, seperti SMPN VI, SPG/SMA XI, STM Jetis, dan Kantor Balai Penyamakan Kulit di Jl. Diponegoro (kini Rumah Makan “Sari Raja”).
Pertengahan tahun 1959, Stasi Jetis berada dalam reksa pastoral Rm. Carlo Carri, SJ. Dengan telaten, Rm. Carri mengadakan pendekatan dengan tokoh-tokoh awam di Stasi Jetis untuk menjajaki kemungkinan mendirikan gereja di wilayah Jetis.
Pada tanggal 15 Oktober 1960, di Jetis berdiri Susteran Amal Kasih Darah Mulia dan diresmikan oleh Sr. Patricia, ADM sebagai provinsial. Atas kebaikan Suster-suster ADM, umat Stasi Jetis diperbolehkan mengadakan Perayaan Ekaristi di Kapel Susteran.
Karena perkembangan umat semakin pesat, maka untuk efektifitas pendampingan dan reksa pastoral umat, Kring Bangirejo dimekarkan menjadi dua kring yakni Kring Blunyah dan Kring Bangirejo. Kring Jetis dimekarkan menjadi duan yakni Kring Cokrokusuman dan Kring Cokrodiningratan. Karena alasan kedekatan teritorial, Kring Kricak yang sebelumnya menjadi wilayah Paroki Kumetiran digabungkan menjadi bagian Stasi Jetis.
Atas prakarsa Rm. Carri dan tokoh-tokoh awam di wilayah Stasi Jetis maka pada tanggal 8 Oktober 1963, dibentuklah “Pengurus Gereja dan Papa-Miskin Room Katolik di Wilayah Gereja Albertus Agung Soegijopranoto di Yogyakarta” (PGPM) oleh pejabat Uskup Semarang, Mgr. Justinus Darmojuwono. Akta Notaris PGPM disahkan di hadapan Notaris RM. Soeprapto pada tanggal 4 November 1963.
Persoalan terbesar yang dihadapi oleh PGPM ialaha Dimanakah akan didirikan gedung gereja? Pengurus mulai melirik beberapa tempat yang memungkinkan untuk mendirikan gereja. Beberapa pilihan mulai bermunculan namun belum ada yang sesuai. Di tengah kesibukan mencari tanah itu, umat Stasi Jetis harus rela melepas kepergian Rm. Carri yang diangkat sebagai Sekretaris Keuskupan Agung Semarang. Sebagai penggantinya adalah Rm. H. Natasusila, Pr, mulai bulan Agustus 1964.
Sementara itu, perkembangan umat semakin pesat. Hal itu karena lahirnya kring-kring baru yakni Kring Karangwaru dan Poncowinatan. Sedangkan Kring Gowongan dan Penumping yang sebelumnya menjadi bagian dari paroki Kumetiran digabungkan ke Jetis sehinggga Stasi Jetis saat itu mempunyai 12 kring. Bertambahnya jumlah kring ini semakin memperkuat keinginan umat untuk memiliki gedung gereja sendiri.
Untuk memperlancar reksa pastoral dan usaha pencarian tanah maka dibentuklah Dewan Paroki yang pertama.
Berkat usaha dan doa yang tidak mengenal lelah, pada bulan Agustus 1964 Stasi Jetis berhasil membeli tanah milik Ibu Mohamad Adeline seluas 3945m2 dengan harga Rp. 850.000,-. Tanah tersebut sudah disertifikatkan dengan status hak pakai atas nama PGPM Albertus Soegiyopranoto Yogyakarta pada tgl. 22 Agustus 1968 dengan no SK 116/HP/68.
Sebagai ungkapan syukur karena telah mendapatkan tanah bagi gereja, maka pada bulan November 1965 diadakan misa syukur. Misa syukur inilah yang kemudian dianggap sebagai saat LAHIRNYA PAROKI JETIS. Dan sebagai ungkapan hormat dan cinta kepada Mgr. Albertus Soegijopranoto, SJ sebagai Pahlawan Nasional dan khususnya tekad untuk meneladan semangat dan pengabdian Beliau kepada bangsa, negara, dan gereja maka nama pelindung yang dipilih untuk Paroki Jetis adalah nama baptis Mgr. Soegijopranoto, SJ yakni St. Albertus Agung.
Setelaj memiliki gedung gereja sendiri, umat Jetis semakin bersemangat dalam hidup menggereja. Hal ini terbukti dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh umat dan tumbuhnya kelompok-kelompok, antara lain:
a)      Kelompok Legio Maria yang terbentuk pada bulan September 1968. Karena pesatnya perkembangannya, paroki Jetis bahkan dijadikan sebagai pusat Legio Maria di wilayah DIY, Magelang, dan Jateng Selatan dengan nama Komisium Pohon SUKACITA. Banyka dari anggota legio tersebut sekarang menjadi aktivis paroi, tetapi sayang sekarang legio tersebut sudah tidak ada. Naun mulai bulan Juli 2007 tumbuh “kelompok” doa kerahiman/koronka dan senakel, yakni doa bersama Romo Paroki setiap hari Jumat pk. 15.00.
b)      Mudika Paroki (PALMA: Putra Albertus Magnus) yang sudah mengadakan berbagai kegiatan seperti pentas solidaritas, menggelar lomba koor antar SD se-DIY, menghidupkan perpustakaan paroki, pendakian ke sumbing, latihan kepemimpinan, dll. Memasuki tahun  2000 kelompok ini agak mlempem namun toh ada kegiatan yang menyolok yakni mendirikan Radio Komunitas pada bulan Juli 2003. Radio Komunitas ini bernama Lima Cemara, sebagaimana tertuang dalam Akta Pendirian No. 10 tanggal 11 Juli 2006.
c)      Antiokhia: wadah pembinaan iman remaja. Hingga saat ini Jetis dapat dikatakan sebagai pelopor pengembangan Antiokhia di paroki-paroki kevikepan Yogyakarta.
Perkembangan umat paroki Jetis dapat dikatakan meningkat dengan pesat. Hal ini mendorong adanya pemekaran lingkungan sehingga lahirlah lingkungan-lingkungan yang baru.
Pada tahun 1983, lingkungan Kricak dimekarkan menjadi dua, yakni Kricak dan St. Paulus Jatimulyo. Empat tahun kemudian, tahun 1987, lingkungan St. Paulus Jatimulyo dipilah menjadi tiga, yakni St. Paulus Jatimulyo, St. Thomas Jatimulyo, dan St. Alfonsus Jatimulyo. Seakan tidak mau kalah pada tahun itu juga lingkungan Kricak menbidani lahirnya lingkungan bangunrejo, sedangkan lingkungan Jagoyudan dipilah menjadi dua, yaitu Jogoyudan Lor dan Jogoyudan Kidul.
Di samping itu mulai tahun 1980, stasi Nandan, yang sebelumnya termasuk wilayah Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati digabungkan dengan paroki Jetis. Hal ini mengingat letak geografisnya dan demi optimalnya pelayanan pastoral. Bahkan sejak tanggal 1 Agustus 1996 Stasi Nandan sudah mempunyai gedung gereja yang diberkati oleh Rm. Yoh. Harjaya, Pr selaku Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang.
Perkembangan umat Nandan sangat dipengaruhi oleh ketekunan bruder-bruder Karitas yang dirintis oleh Br. Alfons Wiryataruna dan juga para romo dan frater dari Kongregasi Redemtoris. Karenanya pelindung yang dipakai adalah St. Alfonsus Maria de Ligouri.
Pada tahun 2000 status stasi Nandan berubah menjadi Paroki Administratif. Bahkan pada ulang tahun ke-8, sudah mempunyai gedung pastoran yang diberkati Uskup Agung Semarang Mgr. Ign. Suharyo pada tanggal 21 Agustus 2004. Dan sejak 15 Juli 2005 pastoran sudah ditempati Rm. Ig. Jayasewaya, Pr. Karenanya seluruh reksa pastoral sudah tidak tergantung dengan paroki Jetis, sekaligus sebagai persiapan untuk menjadi paroki mandiri.
Berikut ini adalah para romo yang pernah berkarya di Paroki Jetis, yakni:
1.      Rm. H. Natasusila, Pr (1964-1970)
2.      Rm. YB. Mangunwijaya, Pr (1969-1976)
3.      Rm. A. Wahyasudibya, Pr (1970-1980)
4.      Rm. F. Kiswono, Pr (1978-1987)
5.      Rm. Y. Tjakraatmadja, Pr (1980-1981)
6.      Rm. Th. Poeposoegondo, Pr (1981-1984)
7.      Rm. E. Rusgiharto, Pr (1984-1986)
8.      Rm. AK. Wedyawiratno, Pr (1986-1989)
9.      Rm. FL. Hartosubono, Pr (1989-1992)
10.  Rm. FX. Murdisusanto, Pr (1992-1996)
11.  Rm. G. Suprayitno, Pr (1995-1996)
12.  Rm. Y. Suyatno Hadiatmadja, Pr (1996-2001)
13.  Rm. FX. Krisno Handoyo, Pr (1996-1997)
14.  Rm. Ch. Sutrasno Purwanto, Pr (2001-2006)
15.  Rm. MJ. Riawinarta, Pr (2002-       )
16.  Rm.L. Issri Purnomo M, Pr (2002-2003)
17.  Rm. Ag. Joko Sistiyanto, Pr (2003-        )
18.  Rm. Ign. Jayasewaya, Pr (2005-        ) tinggal di Nandan
19.  Rm. FX. Krisno Handoyo, Pr (2006-       )


NB : tulisan ini belum selesai.....Suwun!

Sejarah Lingkungan St Thomas Rasul

Pak Sriyon, Pak Ripto (alm) dan Pak Sarjana (alm) 

Pak Budi karyono
Umat Katolik Jatimulyo pada awal mulanya tergabung  dalam satu lingkungan besar, yaitu lingkungan Kricak. Ketua lingkungan Kricak adalah almarhum bapak Repto. Lalu pada tahun 1983 dimekarkan lingkungannya, yakni Kricak dan St. Paulus Jatimulyo. Seakan tidak mau kalah pada tahun itu juga lingkungan Kricak mebidani lahirnya lingkungan Bangunrejo (Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki  Jetis ;2007). Selama lingkungan Jatimulyo bersatu, di bawa naungan Santo Paulus, umat katholik se-Jatimulyo terus meningkat.  Sehingga jumlah peningkatan umat Katholik hempir melebihi 100 kepala keluarga (KK).

Pak Sarjana (alm)

 Dalam sebuah acara kunjungan ke romo Justinus Kardinal Darmojuwono (Alm) dan romo Yono (Alm) oleh warga Lingkungan St. Paulus. sehabis kunjungan itu diadakan pertemuan yang terdiri dari Pak Marianto, Pak Cs. Tri Haryono, Pak Suharto (lingk.St. Alfonsus), Pak Sukirman dan Pak Yono untuk menanggapi usulan romo Kardinal Atmojo. Yang Mengaharapkan agar lingkungan St. Paulus dimekarkan, supaya umat yang bertambah banyak tersebuat dapat  menjangkau serta  terkoordinir  dengan baik. Maka, pada tahun 1987 itu juga pertemuan lingkungan St. Paulus Jatimulyo menghasilkan lingkungan baru. Dengan demikian dipilah menjadi tiga, yakni St. Paulus Jatimulyo, St. Thomas Jatimulyo, dan St. Alfonsus Jatimulyo.
Dalam ziarah
Kegiatan PIA Lisathora langsung digerakan  Mudika Lingkungan, orang tua sebagai pendukung. Semua memiliki peran active sendiri-sendiri, walaupun pada akhirnya bertujuan sama. Ibu-ibu Lisathora setiap bulan tanggal 28 pertemuan rutin. Isi acara pertemuan antara lain;  warta paroki Ibu-ibu paroki, arisan dan pengetahuan umum. Ketika kelompok bapak-bapak Lisathora masih eksis mengadakan pedalaman kitab suci. Mudika Lisathora dan PIA Lisathora selalu berdinamika dengan kegiatan-kegaitan yang mendukung perkembang imannya secara dewasa.
Berikut ini ketua Lingkungan yang pernah menjabat;
Pak Pardi

1.       Bapak Ag.Surepto, (1987-1990)
2.       Bapak Yohanes Baptis Sarjono, (1990-1993)
3.       Bapak JB Duwi Suseno, (1993-1996)
4.       Bapak Budi Karyono, (1996-1997)
5.       Bapak Yohanes Baptis Sarjono, (1997-2000)
6.       Bapak Hendro Puranto,(2000-2003)
7.       Bapak Yohanes Baptis Sarjono, (2003-2006)
8.       Bapak CB Supardi, (2006- 2010)
9.       Bapak Seno, (2010-….)

bersama dlm lingk st paulus ketika itu

Ibu2 ketika lingk menyatu dlm Lingk St Paulus Jtm

pestanama lingk st thomas, orgen bu susi

PIA ketika lingk menyatu dlm Lingk St Paulus Jtm

PIA pertama Lingk. Thomas acara pestanama,
mbak Supri,mbak eri,biru mbak nbaris

potong tumpeng pertama lingkungan st thomas,1987

tugas koor th 1989
ziara th 1990

ziara besama th 1999

Himne LISATHORA Jatimulyo



Teks Himne

Pencipta Himne Lisathora

KISAH SANTO THOMAS

Proses kematian St Thomas rasul  (sumber :  Santo-santa)
Seringkali orang mempunyai gambaran yang kurang adil terhadap rasul ini. Setiap kali namanya disebut, yang terbayang adalah seorang rasul yang tidak mau percaya. Thomas-yang disebut Didymus (artinya ‘kembar’)- seorang nelayan pembantu. Tidak seperti Petrus dan Andreas yang memiliki perahu sendiri. Thomas tidak memilikinya. Hidupnya selalu hampir kurang. Inilah yang membuat ia bersikap hati-hati, pessimis, dan cepat menyangka akan terjadi hal yang buruk. Namun demikian, ia berani. Ketika Yesus mendengar bahwa Lazarus meninggal dunia, Ia mau kembali ke Yudea ; padahal baru saja Ia hampir dilempari batu di sana. Sesudah pada rasul menahan Yesus, Thomas dengan lantang mengajak, “Ayo, kita pergi pula ! Biarlah kita mati bersama-sama dnegan Dia.” Thomas tak mau membiarkan Yesus pergi sendirian menantang bahaya. Thomas seorang yang terus terang, polos, dan tidak malu-malu menyatakan ketidaktahuannya. Ketika Yesus berpamitan pada perjamuan terakhir, Thomas bertanya jujur, “Kami tak tahu ke mana Engkau pergi ; jadi bagaiman kami tahu jalan ke situ.” Keraguan Thomas ini mengundang Yesus untuk menyingkap rahasia Tri Tunggal yang mendalam itu, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tak seorang pun datang kepada Bapa tanpa melalui Aku. Kalau kamu mengenal aku, kamu juga mengenal Bapa-Ku.” Sesudah dicekam  kebimbangan, sedih, dan tidak percaya, “Sebelum aku melihat sendiri....dan mencucukkan ujung jariku.....” Maka ketika berjumpa dengan Yesus yang telah bangkit itu, Thomas spontan berseru, “Tuhanku dan Allahku !” Jawab Yesus kepada Thomas waktu itu tetap berkumandang sampai zaman kita, “Karena engkau telah melihat, Engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya !” Tentang  karya kerasulan Thomas sesudah itu, kitab suci tidak menyebutkan apa-apa lagi. Juga tiada surat peninggalan Thomas yang sampai kepada kita. Menurut tradisi, Thomas menyebarkan kabar gembira ke arah timur dengan mengikuti jalan para pedagang, yaitu di Syria, Armenia, Persia, dan India. Di Mailapur, dekat Kota Malabar, India, makam Santo Thomas pasti sudah dihormati sebelum abad ke-6. Orang Kristen India Selatan percaya, bahwa Santo Thomas mentobatkan Raja Gondaphur dan bahwa mereka keturunan orang-orang Kristen abad pertama. Ia mati ditusuk tombak, yang sisanya ditemukan kembali sewaktu makamnya dibuka kembali ( 1523).